Pendahuluan

Kota Banjarmasin terletak pada daerah dataran rendah, tanahnya terjadi dari endapan (aluvial), dialiri oleh banyak sekali sungai-sungai yang saling berpotongan. Sungai Barito di sebelah Barat kota merupakan sungai terbesar (utama), serta Sungai Martapura yang mengalir dari Timur Laut ke arah Barat Daya. Sungai Martapura membelah Kota Banjarmasin melalui 5 (lima) wilayah kecamatan yang bermuara ke Sungai Barito. Disamping itu ada berpuluh-puluh sungai lain yang berpotongan satu sama lain, semuanya bermuara ke Sungai Martapura dan atau ke Sungai Barito.

Gambar 1. Budaya Sungai Masyarakat Banjar

Semua sungai dan anak sungai merupakan urat nadi kehidupan dan perekonomian masyarakat Kota Banjarmasin karena berfungsi sebagai pembuangan air (outlet) drainase dan prasarana transportasi air disamping prasarana transportasi darat yang berkembang sangat pesat akhir-akhir ini. Suatu Kota yang diidamkan oleh masyarakat adalah permukiman yang layak huni, produktif dan berjati diri. Kota Banjarmasin, seperti kota-kota lainnya sedang berbenah diri menuju kota yang diidamkan oleh masyarakatnya. Pertambahan penduduk yang cepat menjadikan Kota Banjarmasin memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi dan tergolong kategori Kota Besar (> 500.000 tepatnya 624.089 jiwa) dengan luas kota yang hanya 80,00 Ha. Pertambahan penduduk yang pesat tersebut seharusnya diikuti dengan penyediaan prasarana dan sarana dasar kota, salah satu prasarana dasar kota yang dinilai cukup penting adalah sistim drainase. Semakin pesat pertumbuhan perkotaan maka permasalahan drainase perkotaan semakin meningkat pula.

Pada umumnya penanganan drainase masih bersifat parsial, sehingga tidak menyelesaikan permasalahan banjir dan genangan secara tuntas. Pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh, dimulai dari tahap perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan, serta ditunjang dengan peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat.

Peningkatan pemahaman mengenai drainase kepada pihak yang terlibat baik bagi pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar penanganan drainase dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Ada dua permasalahan yang paling menonjol yang berhubungan dengan sistim drainase di kota Banjarmasin, yaitu masalah rumah di atas rawa dan rumah di bantaran atau di dalam badan sungai. Mengenai rumah di bantaran atau di dalam badan sungai dan masalah rumah di atas rawa, semula diharapkan dapat dikupas dan disorot dalam program Pemerintah. Sebagaimana yang dimaklumi pada umumnya Banjarmasin terdiri atas rawa-rawa yang sebagian diurug pada saat mendirikan rumah di atasnya.

Permasalahan Sungai di Banjarmasin

Permukiman tepi sungai Banjarmasin “Kota Seribu Sungai” Kalimantan Selatan kini semakin tua dan semakin semrawut. Selain disebabkan belum jelasnya orientasi tata ruang kota, juga disebabkan minimnya perhatian pemerintah terhadap arti pentingnya bantaran sungai. Bahkan, pemerintah sendiri ikut-ikutan menguruk bantaran Sungai Martapura sampai 30 meter ke arah badan sungai.

Pemandangan di permukiman penduduk di sepanjang Sungai Barito dan Sungai Martapura kini semakin beranjak menjadi kumuh. Beberapa rumah tua bahkan sudah miring dan rawan roboh, sehingga membahayakan penghuni dan tetangganya. Di pinggir-pinggir sungai kecil lainnya permukiman penduduk yang mayoritas berbahan kayu sudah berjubel layaknya permukiman tua di bantaran sungai Jakarta. Lanting- lanting (rumah terapung) yang menjadi ciri khas budaya dan bisa menarik wisatawan itu kini semakin tak tertata dan tak sedap dipandang mata (Kompas, 2003). Air sungainya berwarna coklat dan kadang kehitam-hitaman. Enceng gondok, ranting, dahan kayu, dan pelbagai jenis sampah serta bangkai pelbagai jenis binatang yang berserakan di sungai itu, makin menambah buruknya kualitas air. Belum lagi soal pendangkalan dan kehilangan garis pantai sehingga sungai menjadi pendek dan menyempit.

Gambar 2. Kehidupan Masyarakat Pinggir Sungai

Masyarakat sekitar mengeluhkan buruknya kualitas air sungai tersebut, juga akibat berbagai limbah pabrik yang beroperasi di tepi sungai. Pelebaran Jalan Piere Tendean dan Jalan Sudirman telah memakan badan sungai Martapura. Di antara ratusan anak-anak sungai Martapura terdapat puluhan yang cuma tinggal nama, sungainya sudah berubah menjadi permukiman, badan jalan, bangunan kantor, dan peruntukan lainnya.

Sungai yang hilang antara lain Sungai A Yani di kiri-kanan Jalan Jenderal A Yani, sepanjang 15 kilometer lebar 15 meter sudah menjadi badan jalan (Baldi Fauzi, Kompas). Masalah pengerukan alur Barito sepanjang 14 kilometer, lebar 55 meter, dari muara Sungai Barito menuju dermaga pelabuhan yang memakan anggaran Rp 6-7 milyar per tahun lantaran endapan lumpurnya sangat tinggi 2,5 juta-3 juta meter kubik per tahun sampai saat ini belum juga tuntas dan selesai. Hal ini jelas mengganggu arus transportasi dan distribusi barang ke dan dari Banjarmasin. Dan persoalan pengerukan sungai Barito tersebut, sampai saat ini masih menjadi polemik dan masalah yang serius yang melibatkan para pejabat tinggi pemerintah termasuk Gubernur yang sebenarnya kalau diperhatikan lebih lanjut permasalahan pendangkalan sungai terletak pada pengelolaan pengatur siklus hidrologi di hulu yang kebanyakan selama ini pemerintah dan berbagai pihak lainnya terlena, hal ini terlihat dari mengeruhnya sungai yang selama ini digunakan masyarakat banjar sebagai alat transportasi, maraknya penebangan-penebangan pohon di daerah hulu sehingga menyebabkan abrasi pada daerah aliran sungai yang akhirnya menyebabkan terjadinya endapan di daerah hilir.

Permasalahan yang datang dalam pengelolaan sungai di Banjarmasin seringkali datang dari kurangnya kesadaran masyarakat pinggir sungai dalam pengelolaan kebersihan sungai tersebut, selain itu kurang terpadunya metode yang dipakai dalam pembangunan bangunan yang ada di Kota Banjarmasin, sebagaimana dikemukakan sebelumnya umumnya pembangunan di Banjarmasin yang dibangun di atas rawa dengan cara mengurug tanah dengan cara yang tidak tepat, sehingga hal ini menyebabkan matinya aliran sungai dan seringkali menyebabkan air pasang yang naik ke permukaan. Permasalahan lainnya datang dari perusahaan terutama dalam pengaturan tata letak pelabuhan serta pembuangan limbah, hal ini seringkali permasalahan yang kadang diabaikan namun merupakan faktor serius.

Ditinjau dari ilmu sosial budaya, permasalahan sungai terkait pada ekologi, yaitu hubungan manusia dengan lingkungannya, dimana dalam hal ini manusia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan sungai sebagai tempat hidup serta kegiatan sehari-hari mereka, selain itu dalam permasalahan ini terkait juga hubungan manusia dengan Penciptanya atau biasa disebut dengan Emotional Spiritual Question, yang telah diketahui mayoritas masyarakat banjar adalah penganut agama Islam yang kental sungguh ironis sekali saat ajaran agama ini mengajarkan kebersihan adalah salah satu faktor pondasi iman, namun dalam kesehariannya dalam hubungan manusia atau masyarakat tersebut dengan lingkungannya yaitu sungai malah sangat tidak harmonis, utamanya dari segi kebersihan.

Sampah

Sampah merupakan persoalan lingkungan klasik di perkotaan. Namun, sampai saat ini, masih menjadi masalah yang serius. Di samping rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, upaya yang dilakukan pemerintah juga belum optimal. Kalau kita lihat di beberapa tempat pembuangan sampah sementara (TPS), pada siang hari masih banyak tumpukan sampah yang tidak terangkut. Belum lagi, berapa banyak anak sungai yang “mati” akibat adanya sampah yang terus menumpuk. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola kota adalah masalah sampah.

Berdasarkan data-data BPS pada tahun 2000, dari 384 kota yang menimbulkan sampah sebesar 80.235, 87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut ke dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sebesar 4,2 %, yang dibakar 37,6%, yang dibuang ke sungai 4,9%, dan tidak tertangani sebesar 53,3%. Di Kalimantan Selatan, dengan jumlah penduduk kota 1.347.527 yang tersebar di 11 kota, cakupan yang terlayani oleh adanya pelayan pemerintah dalam pengelolaan sampah hanya 550.017 jiwa atau 40,8% (Bappenas, 2002).

Gambar 3. Pengelolaan Sampah di Kota Banjarmasin

Kesehatan

Kawasan yang kumuh dan lingkungan yang tidak higienis menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Berdasarkan laporan Banjarmasin Post, 23 September 2004, setidaknya ada 4 jenis penyakit yang masih menjadi masalah Kota Banjarmasin, karena selalu ada sepanjang tahun. Demam berdarah, sampai bulan September 2004 telah ditemukan 111 kasus dengan 1 kematian. Diare selalu terjadi sepanjang tahun, setiap bulan selalu ada ditemukan kasus diare dan selalu mengalami peningkatan di musim kemarau.

Penggunaan air sungai untuk konsumsi dan kebutuhan sehari-hari, termasuk membuang kotoran biologis dan non-biologis memicu tumbuh kembangnya kuman penyebab diare. Berdasarkan penelitian Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Banjarmasin pada bulan Mei 2004, menunjukkan adanya kuman tersebut pada badan air sungai maupun air bersih yang menjadi obyek penelitian. TBC, di kota Banjarmasin sampai bulan September 2004 ada 650 penderita dan diobati dengan angka kesembuhan 87,5%. Artinya, masih 12,5% yang tidak tersembuhkan. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat polusi udara ditambah dengan kondisi perumahan yang kurang sehat dan kekurangan gizi cenderung meningkat pada tahun 2004. Peningkatan tersebut sangat dipengaruhi oleh asap kendaraan bermotor, industri, asap rokok, asap bakaran sampah, asap kebakaran hutan dan lahan, asap dapur, dan lain-lain.

Tata Ruang Kota

Tata ruang kota merupakan hal yang sangat penting dalam melakukan pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup. Perkembangan kota yang cenderung mengabaikan kawasan hijau kota, berupa ruang terbuka hijau, hutan kota, dan taman kota, sangat disayangkan. Ketiadaan hutan kota yang mestinya dapat berfungsi sebagai penyerap karbon, peredam kebisingan, pengatur tata air, dan peredam kebisingan, makin membuat kondisi lingkungan kota Banjarmasin makin parah.

Pendirian bangunan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan kota Banjarmasin yang notabene adalah kawasan rawa sangat berpengaruh terhadap tata air. Akibat adanya pengurukan kawasan rawa menyebabkan kemampuan kawasan rawa sebagai kawasan penyangga yang mampu menyerap air di musim hujan dan mendistribusikannya kembali di musim kemarau menjadi rusak. Saat ini, sudah dirasakan oleh masyarakat kota Banjarmasin di mana terjadi banjir atau genangan air pada musim hujan dan masuknya air laut lebih jauh ke daratan (infiltrasi air laut). Hal ini diperparah dengan tidak tertatanya drainase sebagai pengatur keluar masuknya air. Kawasan industri yang lokasinya berada di bantaran sungai dan di tengah-tengah masyarakat tidak dilakukan penataan kembali. Padahal, hal ini sangat mengganggu bagi kesehatan masyarakat sekitar, misalnya, pabrik karet dan stock file batubara di Pelambuan.

Gambar 4. Kenaikan Permukaan Air Sungai

Pembangunan perkotaan yang dilakukan masih tidak mengindahkan kaidah-kaidah lingkungan hidup dan penataan ruang kota yang ramah lingkungan. Polusi udara, pencemaran air, masalah sampah, buruknya pengelolaan sungai merupakan penyebab utama berbagai penyakit yang menyerang penduduk kota terutama kalangan bawah. Mesti dilakukan perubahan mendasar paradigma dan kebijakan dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup ke depan di Kalimantan Selatan. Masyarakat mesti mendorong kerja-kerja Gubernur dan para Bupati serta para wakil rakyat yang baru duduk di DPRD, baik Propinsi maupun Kabupaten, agar bekerja lebih optimal dalam membangun “manusia seutuhnya Kalimantan Selatan” dengan bersandar pada aspek lingkungan hidup, sosial-budaya, selain aspek ekonomi.

Solusi

Fenomena pemanasan global dan degradasi kualitas lingkungan memaksa Jakarta harus membangun kota (sungai) ramah air untuk menghidupkan kembali air dalam tata kotanya. Ini sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No 7/2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang, dan Permendagri No 1/2007 tentang Penataan RTH Kawasan Perkotaan. Ada lima kriteria, yakni kemudahan akses publik terhadap air, partisipasi masyarakat dalam membangun budaya ramah air, penataan muka dan badan air secara berkelanjutan, pengelolaan air, dan limbah ramah lingkungan. Kota memberikan kemudahan akses untuk memperoleh air bersih layak minum. Di tempat-tempat publik di terminal, stasiun, dan taman disediakan keran air minum gratis. Saluran air terhubung secara hierarkis (kecil ke besar sesuai kapasitas), tidak terputus, terawat baik bebas sampah, bersih, dan lancar. Partisipasi masyarakat membersihkan saluran air di depan rumah harus terus digiatkan.

Banjarmasin sebagai kota sungai, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan harus merefungsi bantaran sungai bebas dari sampah mengatur tata pemukiman daerah agar tertata rapi sebagai ciri khas objek Kalimantan Selatan, menghijaukan kembali bantaran, serta menjadikan halaman muka bangunan dan wajah kota. Meski memakan waktu dan daya tahan lama, upaya revitalisasi bantaran kali harus diikuti sosialisasi yang mendorong warga untuk berpartisipasi pindah secara sukarela bergeser (bukan tergusur) ke kawasan terpadu yang komprehensif yang sesuai dengan tatanan kota secara terpadu.

Pemerintah daerah, pengembang besar, dan perancang kota bersama membangun kawasan terpadu yang terencana matang dan layak huni. Kawasan dilengkapi fasilitas hunian vertikal sistem marger sari, perpaduan berimbang 1:3:6 (1 hotel, 3 apartemen, 6 rusunami), pendidikan (sekolah, kursus, pelatihan), ibadah, perkantoran, dan pasar, serta dekat jalur transportasi publik. Penghuni cukup berjalan kaki atau bersepeda ke tempat tujuan dalam kawasan, serta mengandalkan transportasi publik ke luar kawasan. Jika tidak, warga yang tergusur pasti akan berpindah menghuni ruang hijau kota lainnya (bantaran sungai, rel kereta api, bawah jalur tegangan tinggi, kolong jalan layang, dan tepian situ) di lain lokasi yang memang banyak tidak terawat. Begitu seterusnya. Setelah itu, bantaran sungai, warga dapat menyusuri sungai menuju ke berbagai tempat tujuan harian (kantor, sekolah, pasar) dengan aman, nyaman, dan bebas kemacetan sambil menikmati keindahan lanskap tepi sungai. Pengoperasionalan perahu air sebagai alat transportasi air kota (waterway) dan taman penghubung (jalur sepeda) akan mendukung pola transportasi makro terpadu Banjarmasin.

Sebagai daerah terbuka untuk publik yang menarik, warga dapat menggelar acara rekreasi bersama keluarga atau teman di tepi sungai setiap akhir pekan. Komunitas peduli lingkungan membentuk koperasi masyarakat cinta sungai. Berbagai perhelatan turisme seperti Festival Sungai digelar menjadi kalender tetap pariwisata kota. Untuk menjaga kebersihan dan mengendalikan pemanfaatan sungai, pemerintah kota harus mengoperasikan patroli perahu kecil pembersih sungai setiap hari untuk mengangkut sampah tepi sungai sekaligus mengawasi pemanfaatan badan sungai oleh masyarakat.

Sebagai pengelolaan kota air, Banjarmasin dapat bercermin pada satu kota yang terletak di Italia, yaitu Venesia. Kota Venesia sangat terkenal sebagai kota air yang menjadikannya kota pariwisata, dikunjungi oleh ribuan wisatawan setiap tahunnya dengan pemasukan devisa yang sangat besar. Nusantara mempunyai Venesia dari Timur, yang belum dipoles, sehingga belum dapat dipromosikan. Kota Banjarmasin telah mempunyai infrastruktur sebagai kota sungai, yang jika dikembangkan secara konsisten akan menjadi tujuan wisata mancanegara alternatif selain Bali, Lombok, Yogyakarta, Danau Toba dan lain lain. Sebelum sempat dikembangkan sebagai kota sungai, perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini, malah semakin menjauhkan Banjarmasin dari substansinya sebagai kota sungai dengan memusatkan pembangunan melulu pada infrastruktur darat dan membiarkan penghunian di bantaran dan di dalam badan sungai, pada banyak sungai, terutama di pusat kota, sehingga keindahan sungai menjadi hilang sama sekali, diganti dengan pemandangan yang kumuh. Demikian juga alokasi dana pembangunan kota Banjarmasin yang tidak seimbang antara pembangunan infrastruktur darat dan infrastruktur sungai. Padahal jika benar-benar ingin mengembangkan kota sungai Banjarmasin, alokasi dana pembangunan infrastruktur harus seimbang, antara infrastruktur darat dan infrastruktur sungai. Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin membangun kota sungai Banjarmasin adalah kelembagaan dengan mewujudkan terbentuknya Dinas Penataan Sungai, sumberdaya manusia dengan meningkatkan kualitas SDM pada dinas sungai tersebut, dana dengan memberikan alokasi dana yang seimbang antara pembangunan daratan dan sungai, dan infrastruktur dengan membenahi pemukiman-pemukiman kumuh di sepanjang bantaran dan di dalam badan sungai, melalui penerapan Perda Sungai.

Kelak bantaran sungai pun bernilai estetis (indah, bersih, tertata rapi), ekologis (meredam banjir, menyuplai air tanah), edukatif (habitat dan jalur migrasi satwa liar), dan ekonomi (wisata air, transportasi ramah lingkungan). Perubahan perspektif ini semoga dapat mengubah keseluruhan lanskap hunian kota Banjarmasin yang berpihak kepada kelestarian air, kota (sungai) ramah air, menuju kejayaan (kembali) peradaban kota tepian air sehingga dapat menunjukkan citra Banjarmasin sebagai Venice dari Nusantara.

Referensi

Anonim. 2009. Banjarmasin: Kota Seribu Sungai, Seribu Masalah. http://zhamboes.blogspot.com/2008/05/banjarmasin-kota-seribu-sungai-seribu.html. Akses Tanggal 13 Mei 2009, Pukul 16.30 WITA.

Joga, Nirwono. 2009. Membangun Kota (Sungai) Ramah Air. http://bksdakalsel.co.cc/index.php?option=com_content&task=view&id=633&Itemid=77. Akses Tanggal 13 Mei 2009, Pukul 16.05 WITA.

Tim Teknis Program Pengembangan. 2008. Strategi Sanetasi Kota Banjarmasin. Pemerintah Kota Banjarmasin, Banjarmasin.

Zainuddin, Hasan. 2009. Haruskah “Tertawai” Banjarmasin, Kota Terkotor Indonesia. http://hasanzainuddin.com/2008/08/31/haruskah-%E2%80%9Ctertawai%E2%80%9D-banjarmasin-kota-terkotor-indonesia-2/. Akses Tanggal 13 Mei 2009, Pukul 16.17 WITA

7-Foto Edisi Sun Rise_arif3178.psd

YUSUF BAHTIMI (F1A208007)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Latar Belakang

Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai lahan rawa seluas 191.022 ha yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan tiga Kabupaten lainnya dengan

luas masing-masing 93.365 ha, 49.267 ha dan 48.390 ha. Dari luas

tersebut yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 155.860 ha (81,59%) dari

total luas potensi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Bakhri,

1993).

Besarnya luasan lahan rawa yang terlantar seperti tersebut di atas disebabkan

oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika, kimia,

biologi, tata air dan sosial ekonomi yang menghambat kegiatan budidaya

tanaman. Sifat kimia lahan yang menghambat antara lain: kemasaman dan

kesuburan tanah yang rendah (miskin hara). Sifat fisika yang menghambat

adalah adanya penyusutan ketebalan (subsidence) dan kondisi fisik

lahan. Faktor tata air yang menghambat adalah adanya variasi genangan.

Kendala biologis berupa tingginya serangan hama dan penyakit serta

infeksi gulma. Kendala sosial ekonomi di daerah rawa meliputi:

(a) rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan petani,

(b) terbatasnya tenaga dan modal petani yang menyebabkan timbulnya kesulitan dan

lambannya adopsi teknologi baru. Kelembagaan agribisnis seperti

penyediaan sarana produksi, pengolahan pasca panen, pemasaran hasil,

sistem informasi dan penyuluhan serta aksesibilitas lokasi masih

terbatas dan belum berkembang serta berfungsi secara baik.

Upaya memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar dapat dilakukan melalui

pembangunan hutan rakyat dengan teknik agroforestry berbasis jenis

lokal (indigenous species) yang dilakukan secara partisipatif.

Pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat memulihkan dan

meningkatkan fungsi ekologi serta ekonomi lahan rawa di Provinsi

Kalimantan Selatan.

Jelutung rawa (Dyera pollyphylla Miq. Steenis atau sinonim dengan D. lowii Hook F) merupakan jenis pohon lokal (indigenous tree species) hutan rawa yang prospektif untuk dikembangkan pada hutan rakyat di lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimilikinya. Jelutung rawa mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal, mempunyai daya adaptasi yang baik dan telah teruji pada lahan rawa mempunyai pertumbuhan yang cepat (riap diameter 2,0 – 2,5 cm/tahun, riap tinggi 1,6 – 1,8 m/tahun) dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal mempunyai hasil ganda, getah (untuk permen karet, kosmetik, isolator) dan kayu (untuk pencil slate, vinir, moulding) sudah dikenal dan dimanfaatkan lama oleh masyarakat dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, pada masa produktif disadap getahnya, pada akhir daur dimanfaatkan kayunya.

Pohon Jelutung (Dyera spp.

Di Indonesia terdapat dua jenis jelutung, yaitu: Dyera costulata Hook. F. dan Dyera lowii Hook. F. Kedua jenis ini termasuk famili Apocynaceae. Jelutung, di Kalimantan disebut pantung, di Sumatera disebut labuai, di Semenanjung Melayu disebut ye-luu-tong, dan di Thailand disebut teen-peet-daeng.

Pohon jelutung berbentuk silindris, tingginya bias mencapai 25-45 m, dan diameternya bisa mencapai 100 cm. Kulitnya rata, berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dan bertekstur kasar. Cabangnya tumbuh pada batang pohon setiap 3-15 m. Bentuk daunnya memanjang, pada bagian ujungnya melebar dan membentuk rokset. Sebanyak 4-8 helai daun tunggal itu duduk melingkar pada ranting. Jelutung berbunga dua kali setahun. Bunga malainya berwarna putih, dan buahnya berbentuk polong. Apabila sudah matang, buahnya pecah untuk menyebarkan biji-bijinya yang berukuran kecil dan bersayap ke tempat di sekitarnya.

Jelutung tumbuh baik di daerah hutan hujan tropis yang beriklim tipe A dan tipe B menurut Schmidt & Ferguson; tanah berpasir, tanah liat, dan tanah rawa; dengan ketinggian tempat tumbuhnya 20-80 m dari permukaan laut.

Manfaat Ekonomis Jelutung

Jelutung sebagai komoditi pohon di lahan rawa tentu memiliki beberapa keunggulan ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengembangan ekonomi mereka, hal tersebut antara lain adalah:

1. Getah

Pohon jelutung menghasilkan getah berwarna putih. Penyadapan getah jelutung dilakukan padas pohon jelutung yang berdiameter lebih-kurang 20 cm. Sekali penyadapan menghasilkan getah jelutung 0,1-0,6 kg/pohon. Setahun penyadapan getah jelutung bisa dilakukan 40 kali. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha, maka nilai ekonomis getah jelutung per hektar Rp 2.400.000,- – Rp 13.440.000,-.

2. Kayu

Setelah pohon jelutung tidak lagi menghasilkan getahnya, pohonnya bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Kayu jelutung dapat digunakan untuk bahan: cetakan bangunan, meja gambar, kelom, ukiran, sepasiter baterai, kayu lapis dan pensil.

Menurut perencanaan pembangunan hutan rakyat, pertumbuhan diameter pohon jelutung rata-rata 1,58 cm/tahun, dan dengan umur masak tebangnya 35 tahun, maka rata-rata diameter pohonnya lebih besar 50 cm. Dengan asumsi rata-rata tinggi pohon bebas cabang 15 m, volume rata-rata 2,94 m3, jumlah pohon 200/ha, dan harga kayu di pasaran Rp. 200.000,-/m3, maka nilai kayu jelutung per ha Rp. 117.600.000,-

Potensi Jelutung untuk Hutan Rakyat di Lahan Rawa

Keberhasilan pembangunan hutan rakyat di lahan rawa salah satunya ditentukan oleh faktor pemilihan jenis yang tepat dari aspek ekonomi, sosial budaya dan

ekologis. Pemilihan jelutung untuk hutan rakyat di lahan rawa didasari

oleh alasan sebagai berikut.

  1. Kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang

    baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon

    yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi.

    Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu

    tergenang atau tergenang berkala.

  2. Pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang

    relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara

    1,5 – 2,0 cm per tahun (Bastoni dan Riyanto, 1999). Pohon jelutung yang

    dibudidayakan dengan pemeliharaan semi insentif riap diameternya dapat

    mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun (Bastoni, 2001).

  3. Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung

    dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan

    terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini dimungkinkan sebab

    penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal

    untuk sistem drainase. Pembuatan kanal merupakan bentuk gangguan berat

    pada lahan yang berdampak negatif, seperti: terjadinya perubahan status

    hidrologi dari kondisi tergenang menjadi tidak tergenang, terjadinya

    penurunan tebal lapisan (subsidence) dan menyebabkan sifat kering tak

    balik. Kondisi tersebut menyebabkan lahan rawa menjadi sangat rawan

    kebakaran pada musim kemarau.

  4. Hasil ganda (getah dan kayu). Pengembangan jelutung mempunyai prospek

    yang baik karena kedua jenis produk pohon jelutung (getah dan kayu)

    memiliki banyak manfaat. Kayu jelutung berwarna putih kekuningan,

    bertekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang licin

    mengkilap. Sifat kayu jelutung tersebut sangat baik digunakan sebagai

    bahan baku industri mebel, plywood, moulding, pulp, patung dan pencil

    slate. Getah jelutung dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet,

    isolator dan soft compound ban. Pasar kayu jelutung di dalam negeri

    relatif baik, hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku industri

    pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahun (Bastoni dan Lukman,

    2004).

  5. Masukan (input) biaya budidaya relatif rendah. Bastoni dan Karyaatmadja

    (2003) menyatakan bahwa dalam jangka waktu tiga tahun biaya yang

    dikeluarkan pada pembangunan hutan tanaman jenis jelutung untuk bibit,

    penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan sekitar Rp2,88 juta per ha

    lahan.

  6. masyarakat telah mengenal jelutung. Jelutung dapat dibudidayakan

    seperti tanaman karet, yaitu pada masa produktif disadap getahnya dan

    pada saat produktivitas getahnya menurun dapat dimanfaatkan kayunya.

    Pola budidaya jelutung mirip dengan karet, yaitu hasil getah mulai umur

    8-10 tahun sampai sepanjang daur dan hasil kayu pada akhir daur.

    Kemiripan budidaya jelutung dengan karet menjadikan masyarakat tidak

    mengalami kesulitan untuk membudidayakannya.

Strategi Pengembangan Hutan Rakyat Jenis Jelutung Rawa

Selama ini Negara Indonesia menjadi pemasok getah jelutung terbesar pada negara-negara importir. Kebutuhan getah jelutung untuk berbagai industri diberbagai Negara, belum bisa dipenuhi seluruhnya oleh Negara Indonesia. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung rawa di Provinsi Kalimantan Selatan

diprioritaskan pada lahan rawa yang telah dikonversi tetapi kurang

sesuai untuk tanaman pertanian dan perkebunan. Pembangunannya dapat

dilakukan dengan menggunakan teknik wanatani (agroforestry), wanamina

(silvofishery), wanaternak (silvopasture), agrosilvopasture atau

agrosilvofishery tergantung dari sumberdaya dominan yang terdapat di

lokasi pengembangan. Penerapan teknik agroforestry pada pembangunan

hutan rakyat jenis jelutung rawa dimaksudkan untuk diversifikasi

komoditi, usaha dan pendapatan sehingga akan dapat meningkatkan minat

petani untuk membudidayakan jelutung yang berjangka panjang.

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung rawa untuk merehabilitasi lahan rawa

terdegradasi di Provinsi Kalimantan Selatan memerlukan adanya dukungan

teknologi dan kelembagaan. Teknologi yang perlu dikembangkan untuk

mendukung keberhasilan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di

lahan rawa adalah sebagai berikut.

  1. Teknik silvikultur jelutung. Rangkaian kegiatan silvikultur jelutung

    mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan

    memerlukan adanya teknologi yang tepat. Oleh karena itu, pengembangan

    hutan rakyat jenis jelutung perlu melibatkan institusi litbang dan

    perguruan tinggi. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru sebagai

    salah satu UPT Badan Litbang Departemen Kehutanan telah melakukan

    berbagai penelitian silvikultur jelutung yang hasilnya diharapkan dapat

    digunakan untuk mendukung pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di

    lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

  2. Teknologi penanganan benih dan perbanyakan. Pembibitan jelutung secara

    massal terkendala oleh sifat benih yang mudah rusak dan cepat

    berkecambah (recalcitran) sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.

    Teknologi penyimpanan benih dan perbanyakan vegetatif baik secara makro

    (stek) maupun mikro (kultur jaringan) sangat diperlukan guna penyediaan

    bibit jelutung dalam jumlah yang banyak.

  3. Teknologi pengendalian kebakaran. Lahan rawa sangat rawan kebakaran

    terutama pada musim kemarau. Teknologi dan kelembagaan pengendalian

    kebakaran lahan rawa yang efektif mutlak diperlukan. Banyak kasus

    kegagalan pembangunan hutan tanaman terjadi karena bencana kebakaran,

    seperti kebakaran yang terjadi di PT. Dyera Hutan Lestari Jambi telah

    menghancurkan areal tanaman jelutung yang tadinya seluas 2.300 ha

    menjadi tinggal 200 ha (Bastoni dan Lukman, 2004).

  4. Teknologi penyadapan getah jelutung. Teknik penyadapan getah jelutung

    yang memperhatikan kelestarian sangat penting untuk dikembangkan.

    Penyadapan getah jelutung yang terbaik dilakukan pada pohon dengan

    diameter lebih dari 25 cm, periode sadap 2 hari dengan sudut bidang

    sadap 450. Penyadapan dengan cara tersebut memberikan hasil getah

    rata-rata 1,37 ton/ha/tahun. Penurunan riap diameter pohon jelutung

    akibat penyadapan rata-rata sebesar 0,34 cm/tahun (Bastoni dan Lukman,

    2004).

Pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa memerlukan dukungan kelembagaan. Kelembagaan dapat mempunyai dua arti, yaitu suatu perangkat peraturan dan organisasi yang membuat/mengawasi pelaksanaan

peraturan-peraturan tersebut (Departemen Kehutanan, 1997). Contoh

kelembagaan adalah kredit, penyuluhan, koperasi, penelitian dan

pengembangan serta tataguna lahan. Kelembagaan-kelembagaan yang perlu

mendapat perhatian khusus dalam pengembangan hutan rakyat jenis

jelutung di lahan rawa antara lain koordinasi antar lembaga, masalah

pendanaan dan infrastruktur, masalah kelembagaan pada tingkat lokal dan

distribusi keuntungan. Selain itu, perlu ditetapkan kelompok tani yang

dibentuk oleh masyarakat sendiri, secara permanen berikut dengan

wilayah kerjanya. Hal ini dapat mempermudah petugas lapangan kehutanan

untuk melakukan berbagai pendekatan berupa penyuluhan, bantuan/advis

teknologi, dan lain-lain.

Peranan kelembagaan pada pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa adalah: (a) meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian

informasi dalam proses penyuluhan, (b) memperkuat posisi petani, (c)

meningkatkan kemampuan kinerja petani pada pembuatan perencanaan dan

proses pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan

rawa, (d) memperjelas satuan dan ukuran kawasan manajerial pengembangan

hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

Penutup

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung untuk memproduktifkan lahan rawa terlantar di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilakukan dengan mengembangkan

pola kemitraan. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung dengan pola

kemitraan dapat diinisiasi dan dikembangkan oleh suatu badan usaha

kehutanan. Masyarakat pemilik lahan hanya menyediakan areal untuk

pembangunan hutan rakyat jenis jelutung. Para pengusaha menyiapkan

pendanaan, teknologi budidaya dan infrastruktur pemasaran hasilnya.

Skema umum dari bentuk kemitraan pembangunan hutan rakyat jenis

jelutung pada areal milik ini adalah sebuah benefit-cost sharing antara

pemilik lahan dengan perusahaan yang disepakati bersama dalam suatu

dokumen perjanjian.

Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Jelutung. http://125.162.119.102/?v=pr&id=85. Akses tanggal 17 April 2009 Pukul 22.00 WITA.

Anonim. 2008. Jelutung. http://pusinfor.ckpp.or.id/hasil penelitian/teknik budidaya jelutung.doc. Akses tanggal 17 april 2009 Pukul 22.30 WITA.

Harun, Marinus Kristiadi. 2006. Jelutung Rawa; Primadona Baru Penghasil Getah. www.radarbanjarmasin.com, Jumat, 28 Juli 2006.

Rotinsilu, M Johanna.dkk. Teknik Budidaya Jelutung, Galam, dan Ramin. Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Palangkaraya.

Oleh:

YUSUF BAHTIMI (F1A208007)

PROGRAM STUDI BUDIDAYA HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Latar Belakang

Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai lahan rawa seluas 191.022 ha yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan tiga Kabupaten lainnya dengan
luas masing-masing 93.365 ha, 49.267 ha dan 48.390 ha. Dari luas
tersebut yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 155.860 ha (81,59%) dari
total luas potensi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Bakhri,
1993).

Besarnya luasan lahan rawa yang terlantar seperti tersebut di atas disebabkan
oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika, kimia,
biologi, tata air dan sosial ekonomi yang menghambat kegiatan budidaya
tanaman. Sifat kimia lahan yang menghambat antara lain: kemasaman dan
kesuburan tanah yang rendah (miskin hara). Sifat fisika yang menghambat
adalah adanya penyusutan ketebalan (subsidence) dan kondisi fisik
lahan. Faktor tata air yang menghambat adalah adanya variasi genangan.
Kendala biologis berupa tingginya serangan hama dan penyakit serta
infeksi gulma. Kendala sosial ekonomi di daerah rawa meliputi:

(a) rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan petani,

(b) terbatasnya tenaga dan modal petani yang menyebabkan timbulnya kesulitan dan
lambannya adopsi teknologi baru. Kelembagaan agribisnis seperti
penyediaan sarana produksi, pengolahan pasca panen, pemasaran hasil,
sistem informasi dan penyuluhan serta aksesibilitas lokasi masih
terbatas dan belum berkembang serta berfungsi secara baik.

Upaya memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar dapat dilakukan melalui
pembangunan hutan rakyat dengan teknik agroforestry berbasis jenis
lokal (indigenous species) yang dilakukan secara partisipatif.
Pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat memulihkan dan
meningkatkan fungsi ekologi serta ekonomi lahan rawa di Provinsi
Kalimantan Selatan.

Jelutung rawa (Dyera pollyphylla Miq. Steenis atau sinonim dengan D. lowii Hook F) merupakan jenis pohon lokal (indigenous tree species) hutan rawa yang prospektif untuk dikembangkan pada hutan rakyat di lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimilikinya. Jelutung rawa mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal, mempunyai daya adaptasi yang baik dan telah teruji pada lahan rawa mempunyai pertumbuhan yang cepat (riap diameter 2,0 – 2,5 cm/tahun, riap tinggi 1,6 – 1,8 m/tahun) dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal mempunyai hasil ganda, getah (untuk permen karet, kosmetik, isolator) dan kayu (untuk pencil slate, vinir, moulding) sudah dikenal dan dimanfaatkan lama oleh masyarakat dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, pada masa produktif disadap getahnya, pada akhir daur dimanfaatkan kayunya.

Pohon Jelutung (Dyera spp.

Di Indonesia terdapat dua jenis jelutung, yaitu: Dyera costulata Hook. F. dan Dyera lowii Hook. F. Kedua jenis ini termasuk famili Apocynaceae. Jelutung, di Kalimantan disebut pantung, di Sumatera disebut labuai, di Semenanjung Melayu disebut ye-luu-tong, dan di Thailand disebut teen-peet-daeng.

Pohon jelutung berbentuk silindris, tingginya bias mencapai 25-45 m, dan diameternya bisa mencapai 100 cm. Kulitnya rata, berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dan bertekstur kasar. Cabangnya tumbuh pada batang pohon setiap 3-15 m. Bentuk daunnya memanjang, pada bagian ujungnya melebar dan membentuk rokset. Sebanyak 4-8 helai daun tunggal itu duduk melingkar pada ranting. Jelutung berbunga dua kali setahun. Bunga malainya berwarna putih, dan buahnya berbentuk polong. Apabila sudah matang, buahnya pecah untuk menyebarkan biji-bijinya yang berukuran kecil dan bersayap ke tempat di sekitarnya.

Jelutung tumbuh baik di daerah hutan hujan tropis yang beriklim tipe A dan tipe B menurut Schmidt & Ferguson; tanah berpasir, tanah liat, dan tanah rawa; dengan ketinggian tempat tumbuhnya 20-80 m dari permukaan laut.

Manfaat Ekonomis Jelutung

Jelutung sebagai komoditi pohon di lahan rawa tentu memiliki beberapa keunggulan ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengembangan ekonomi mereka, hal tersebut antara lain adalah:

1. Getah

Pohon jelutung menghasilkan getah berwarna putih. Penyadapan getah jelutung dilakukan padas pohon jelutung yang berdiameter lebih-kurang 20 cm. Sekali penyadapan menghasilkan getah jelutung 0,1-0,6 kg/pohon. Setahun penyadapan getah jelutung bisa dilakukan 40 kali. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha, maka nilai ekonomis getah jelutung per hektar Rp 2.400.000,- – Rp 13.440.000,-.
2. Kayu

Setelah pohon jelutung tidak lagi menghasilkan getahnya, pohonnya bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Kayu jelutung dapat digunakan untuk bahan: cetakan bangunan, meja gambar, kelom, ukiran, sepasiter baterai, kayu lapis dan pensil.
Menurut perencanaan pembangunan hutan rakyat, pertumbuhan diameter pohon jelutung rata-rata 1,58 cm/tahun, dan dengan umur masak tebangnya 35 tahun, maka rata-rata diameter pohonnya lebih besar 50 cm. Dengan asumsi rata-rata tinggi pohon bebas cabang 15 m, volume rata-rata 2,94 m3, jumlah pohon 200/ha, dan harga kayu di pasaran Rp. 200.000,-/m3, maka nilai kayu jelutung per ha Rp. 117.600.000,-

Potensi Jelutung untuk Hutan Rakyat di Lahan Rawa

Keberhasilan pembangunan hutan rakyat di lahan rawa salah satunya ditentukan oleh faktor pemilihan jenis yang tepat dari aspek ekonomi, sosial budaya dan
ekologis. Pemilihan jelutung untuk hutan rakyat di lahan rawa didasari
oleh alasan sebagai berikut.

  1. Kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang
    baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon
    yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi.
    Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu
    tergenang atau tergenang berkala.

  2. Pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang
    relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara
    1,5 – 2,0 cm per tahun (Bastoni dan Riyanto, 1999). Pohon jelutung yang
    dibudidayakan dengan pemeliharaan semi insentif riap diameternya dapat
    mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun (Bastoni, 2001).

  3. Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung
    dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan
    terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini dimungkinkan sebab
    penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal
    untuk sistem drainase. Pembuatan kanal merupakan bentuk gangguan berat
    pada lahan yang berdampak negatif, seperti: terjadinya perubahan status
    hidrologi dari kondisi tergenang menjadi tidak tergenang, terjadinya
    penurunan tebal lapisan (subsidence) dan menyebabkan sifat kering tak
    balik. Kondisi tersebut menyebabkan lahan rawa menjadi sangat rawan
    kebakaran pada musim kemarau.

  4. Hasil ganda (getah dan kayu). Pengembangan jelutung mempunyai prospek
    yang baik karena kedua jenis produk pohon jelutung (getah dan kayu)
    memiliki banyak manfaat. Kayu jelutung berwarna putih kekuningan,
    bertekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang licin
    mengkilap. Sifat kayu jelutung tersebut sangat baik digunakan sebagai
    bahan baku industri mebel, plywood, moulding, pulp, patung dan pencil
    slate. Getah jelutung dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet,
    isolator dan soft compound ban. Pasar kayu jelutung di dalam negeri
    relatif baik, hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku industri
    pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahun (Bastoni dan Lukman,
    2004).

  5. Masukan (input) biaya budidaya relatif rendah. Bastoni dan Karyaatmadja
    (2003) menyatakan bahwa dalam jangka waktu tiga tahun biaya yang
    dikeluarkan pada pembangunan hutan tanaman jenis jelutung untuk bibit,
    penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan sekitar Rp2,88 juta per ha
    lahan.

  6. masyarakat telah mengenal jelutung. Jelutung dapat dibudidayakan
    seperti tanaman karet, yaitu pada masa produktif disadap getahnya dan
    pada saat produktivitas getahnya menurun dapat dimanfaatkan kayunya.
    Pola budidaya jelutung mirip dengan karet, yaitu hasil getah mulai umur
    8-10 tahun sampai sepanjang daur dan hasil kayu pada akhir daur.
    Kemiripan budidaya jelutung dengan karet menjadikan masyarakat tidak
    mengalami kesulitan untuk membudidayakannya.

Strategi Pengembangan Hutan Rakyat Jenis Jelutung Rawa

Selama ini Negara Indonesia menjadi pemasok getah jelutung terbesar pada negara-negara importir. Kebutuhan getah jelutung untuk berbagai industri diberbagai Negara, belum bisa dipenuhi seluruhnya oleh Negara Indonesia. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung rawa di Provinsi Kalimantan Selatan
diprioritaskan pada lahan rawa yang telah dikonversi tetapi kurang
sesuai untuk tanaman pertanian dan perkebunan. Pembangunannya dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik wanatani (agroforestry), wanamina
(silvofishery), wanaternak (silvopasture), agrosilvopasture atau
agrosilvofishery tergantung dari sumberdaya dominan yang terdapat di
lokasi pengembangan. Penerapan teknik agroforestry pada pembangunan
hutan rakyat jenis jelutung rawa dimaksudkan untuk diversifikasi
komoditi, usaha dan pendapatan sehingga akan dapat meningkatkan minat
petani untuk membudidayakan jelutung yang berjangka panjang.

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung rawa untuk merehabilitasi lahan rawa
terdegradasi di Provinsi Kalimantan Selatan memerlukan adanya dukungan
teknologi dan kelembagaan. Teknologi yang perlu dikembangkan untuk
mendukung keberhasilan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di
lahan rawa adalah sebagai berikut.

  1. Teknik silvikultur jelutung. Rangkaian kegiatan silvikultur jelutung
    mulai dari pembibitan, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan
    memerlukan adanya teknologi yang tepat. Oleh karena itu, pengembangan
    hutan rakyat jenis jelutung perlu melibatkan institusi litbang dan
    perguruan tinggi. Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru sebagai
    salah satu UPT Badan Litbang Departemen Kehutanan telah melakukan
    berbagai penelitian silvikultur jelutung yang hasilnya diharapkan dapat
    digunakan untuk mendukung pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di
    lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

  2. Teknologi penanganan benih dan perbanyakan. Pembibitan jelutung secara
    massal terkendala oleh sifat benih yang mudah rusak dan cepat
    berkecambah (recalcitran) sehingga tidak dapat disimpan terlalu lama.
    Teknologi penyimpanan benih dan perbanyakan vegetatif baik secara makro
    (stek) maupun mikro (kultur jaringan) sangat diperlukan guna penyediaan
    bibit jelutung dalam jumlah yang banyak.

  3. Teknologi pengendalian kebakaran. Lahan rawa sangat rawan kebakaran
    terutama pada musim kemarau. Teknologi dan kelembagaan pengendalian
    kebakaran lahan rawa yang efektif mutlak diperlukan. Banyak kasus
    kegagalan pembangunan hutan tanaman terjadi karena bencana kebakaran,
    seperti kebakaran yang terjadi di PT. Dyera Hutan Lestari Jambi telah
    menghancurkan areal tanaman jelutung yang tadinya seluas 2.300 ha
    menjadi tinggal 200 ha (Bastoni dan Lukman, 2004).

  4. Teknologi penyadapan getah jelutung. Teknik penyadapan getah jelutung
    yang memperhatikan kelestarian sangat penting untuk dikembangkan.
    Penyadapan getah jelutung yang terbaik dilakukan pada pohon dengan
    diameter lebih dari 25 cm, periode sadap 2 hari dengan sudut bidang
    sadap 450. Penyadapan dengan cara tersebut memberikan hasil getah
    rata-rata 1,37 ton/ha/tahun. Penurunan riap diameter pohon jelutung
    akibat penyadapan rata-rata sebesar 0,34 cm/tahun (Bastoni dan Lukman,
    2004).

Pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa memerlukan dukungan kelembagaan. Kelembagaan dapat mempunyai dua arti, yaitu suatu perangkat peraturan dan organisasi yang membuat/mengawasi pelaksanaan
peraturan-peraturan tersebut (Departemen Kehutanan, 1997). Contoh
kelembagaan adalah kredit, penyuluhan, koperasi, penelitian dan
pengembangan serta tataguna lahan. Kelembagaan-kelembagaan yang perlu
mendapat perhatian khusus dalam pengembangan hutan rakyat jenis
jelutung di lahan rawa antara lain koordinasi antar lembaga, masalah
pendanaan dan infrastruktur, masalah kelembagaan pada tingkat lokal dan
distribusi keuntungan. Selain itu, perlu ditetapkan kelompok tani yang
dibentuk oleh masyarakat sendiri, secara permanen berikut dengan
wilayah kerjanya. Hal ini dapat mempermudah petugas lapangan kehutanan
untuk melakukan berbagai pendekatan berupa penyuluhan, bantuan/advis
teknologi, dan lain-lain.

Peranan kelembagaan pada pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa adalah: (a) meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyampaian
informasi dalam proses penyuluhan, (b) memperkuat posisi petani, (c)
meningkatkan kemampuan kinerja petani pada pembuatan perencanaan dan
proses pelaksanaan pengembangan hutan rakyat jenis jelutung di lahan
rawa, (d) memperjelas satuan dan ukuran kawasan manajerial pengembangan
hutan rakyat jenis jelutung di lahan rawa Provinsi Kalimantan Selatan.

Penutup

Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung untuk memproduktifkan lahan rawa terlantar di Provinsi Kalimantan Selatan dapat dilakukan dengan mengembangkan
pola kemitraan. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung dengan pola
kemitraan dapat diinisiasi dan dikembangkan oleh suatu badan usaha
kehutanan. Masyarakat pemilik lahan hanya menyediakan areal untuk
pembangunan hutan rakyat jenis jelutung. Para pengusaha menyiapkan
pendanaan, teknologi budidaya dan infrastruktur pemasaran hasilnya.
Skema umum dari bentuk kemitraan pembangunan hutan rakyat jenis
jelutung pada areal milik ini adalah sebuah benefit-cost sharing antara
pemilik lahan dengan perusahaan yang disepakati bersama dalam suatu
dokumen perjanjian.

Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Jelutung. http://125.162.119.102/?v=pr&id=85. Akses tanggal 17 April 2009 Pukul 22.00 WITA.

Anonim. 2008. Jelutung. http://pusinfor.ckpp.or.id/hasil penelitian/teknik budidaya jelutung.doc. Akses tanggal 17 april 2009 Pukul 22.30 WITA.

Harun, Marinus Kristiadi. 2006. Jelutung Rawa; Primadona Baru Penghasil Getah. www.radarbanjarmasin.com, Jumat, 28 Juli 2006.

Rotinsilu, M Johanna.dkk. Teknik Budidaya Jelutung, Galam, dan Ramin. Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Palangkaraya.

What Do You Conceiving When I Said Kalimantan?

This is Heaven Island that Middle Easterner said with a long view from a hill to broadness of tropical forest. Morning rise an indigenous child is running to the river with typical joke and laugh of them, “balarut” that’s we say when we going to the river, with equipment modestly from wood we fring the river go to middle of jungle. The forests in an island with closeness area located between South China Sea and Java Sea and also splitting by equator line make this island and its dweller rich with the culture and biodiversity. People said this island is Kalimantan! On the way go to the middle of jungle, we have become interesting object from the monkeys, “hirangan” my friend’s screaming beside show indicate some creature with fury of black chromatic above a tree from Dipterocarpus family. Every holiday we have entering to the forest with anglor from bamboo and a sumpit the traditional weapon for catching the fish; in the forest we have accompanied by chip birds with motley his colors. That is picturing my life when I was child 12 years ago.

Binocular farther, “former when the colonization epoch moment, with have capital mandau and bravery we wading the jungle for communicating to other indigenous combatant”. That my grand – grand father has narrating to my mother with life legend in that’s story. In the middle of jungle hinterland we meet the big monkey with red lustrous furry which in the darkness jungle like asking for Frey on the glowering them eye, with them we must have extra alert because them more than dangerous from the tiger with his claw and the bangkuy monkey with his self defenses good movement. That’s Kalimantan Island which is legend one last century, the island with one thousand fantasies which is true have there is.

The Environment and Global Warming

Entering the modern centaury, in sufficient range of time, the environment especially the forest problem is assumed as marginal issue from friezes several of the problems appearing on surface. During the time the problems of forest is not assumed by hot issue, if is compared to various issue, like democracy, human right, and politic.

In spanning time old ones (since industrializations evocation, which marked by industry revolution), natural resource management which has directing for accomplishment of life appetite, which tilled uncontrollably. With a purpose to creating overflow of properties, nature resource has exploited without paying attention balance aspect. As a result, various occurrences ecology disaster has become reality portrait to the product nature management during the time. Extraction uncontrolled to natural life has causing the environment on hot spot of ruination. Matter which I can paying attention former rear my house there are watercourse and also closeness forest area, me and my friend often entering the forest for catch the fish and also search a fruits, but along the nun of time the forest which our place playing has been evolutions to be housing.

Forest area conversion and peat farm has evolutions to be plantation of palm oil, Industrial Crop Forest (HTI), and other industrious (like the mining) has destroyed ecosystem life. Speed of deforestation our nature forest during the time has mounting to feeling concerned conditions. Though in this time Indonesia has recognized by once of which have wade tropical forest area in the world after Brazil with his Amazon the tropical forest. The data from Department of Forestry mentioning wide of Indonesia forest area reaching more than 120 million hectare. And from that’s area on year of 1997 Indonesia has lost 72 percent from its genuiness forest [World Resource Institute, 1997]. Hewing uncontrolled Indonesia forest during tens of year has causing decrease of tropical forest on a large scale.

This is a deforestation account of a big island in Indonesia 5 years ago

No

Year

Deforestation (Ha/year)

Sumatera

Kalimantan

Papua

1.

2000 – 2001

259.500

212.000

147.200

2.

2001 – 2002

202.600

129.700

160.500

3.

2002 – 2003

339.000

480.400

140.800

4.

2003 – 3004

208.700

173.300

100.800

5.

2004 - 2005

335.700

234.700

169.100

Total

1.345.000

1.230.000

718.400

Source: Forestry Department Republic of Indonesia 2009

From above account, we can see the guide of forest deforestation in Kalimantan from 2000th have increase continue and have big decrease in 2002nd, but it was increase again in 2005th. This above account show that the damaged and quick of deforestation in Kalimantan so cause influence in life of all life creative who be in Kalimantan indirectly namely global warming.

How does climate change affect you?

The quick of deforestation in Indonesia, especially in Kalimantan give very big influence in the change of nature situation. Since fell started in forest on a large scale for industry need (necessary), nature situation of Kalimantan changeable so far. For example, before 1980th situation in Tanah Bumbu never have (experience) flood, but since do exploiting at Kalimantan forest product to occur, mainly such as wood situation change on large scale. 10 years ago Tanah Bumbu have regular habitual, be subscriber flood annually. The influence have start tasted make society conscious with the important forest for support the human life for continually; The other influence of deforestation in Kalimantan is the rivers start to narrow in Kalimantan. The thing that I was very remember when I was child in 1996th we often to play in stream of Barito rivers, which is in former days, rivers that the places we play have water color that very pure (clear) and wide of the river according to us very enough for playing. To come in 1998th and further, the narrow of river start taste; sector of establishment happen in everywhere; other things that we taste is the increase of temperature. In Kalimantan with enlarge establishment along with (accompanied by) fell of forest.

The exploitation of forest product continually make me sure that can very to influence in the next life, this things can we think that many forest to fell, so to little carbon emission that can reserved temporary sector industry still continue, and continually causes to increase also the gas composition of glass house in atmosphere of world and surely to increase the world temperature globally.

Source: WRL, CAIT, 2007

From that’s diagram we can see that 18.7 % source of green house effect has made from Land-use change and forestry from his source function.

The increase of world temperature give a big influence in life that was continue, especially the life of society in my place stay that can I see directly. May be in the next not only Tanah Bumbu that will be subscriber of flood, but also big city such as Banjarmasin. This things causes interference in life many aspect indirectly, such as causes the stop of many industry until cause increase of unemployment and total of poverty; indirectly also cause interference in safety and other aspect in human life; cause by decrease stage of human life.

The other influence are may be in the next, the story of Kalimantan that entitled the fantasy island with a thousand river into Kalimantan only will be narration for the next generation. The tropical forest that pride of indigenous society in Kalimantan only will be a real legend that ever been life, and the next only will be Kalimantan with carpet of spacious desert with very high temperature so cause poverty globally.

Industrial Development of Paper and the Influence to Existence Kalimantan Forests

One of the wood Kalimantan forest exploiting is in use of wood fibre for production of Papier Mache. According by WWF 40 % use result from cutting the tree of forest is used to pulp and paper industrial requirement.

Growth of paper and pulp industries in Indonesia really amazes. Manufacture paper capacities in the year 1987 equal to 980.000 ton, and than in the year 1997 has mounting sharply become 7.232.800 ton. Pursuant to extension plan and investment newly on the year 1998-2005 hence paper industrial product capacities to the last year of 2005 become 13.696.170 tons [APKI Directory, 1997].

And so do the things of with pulp industry. On the year 1987 pulp industrial product capacities newly reach 515.000 ton, than on the year 1997 mounting to become 3.905.000 ton. Meanwhile, on the year 1998-1999 has planned addition of production capacities become 1.390.000 ton. Thereby, on the last year of 1999 total of capacity pulp industry can reach 5.295.600 ton. Addition of reach production capacities by pulp industries which have there is and existence of new infestation on the year 2000-2005 adding capacity of pulp industry production on the last year 2005 become 12.745.600 ton from total production.

Department of Forestry giving opportunity to pulp and paper industries are using wood from nature forest if inclusion of wood from industrial crop forest (HTI) not yet ready cause have any effect existence of development trouble two least year. “Policy using of wood from nature forest for pulp and paper industries might possibly be lengthened,” Forestry Minister said MS Kaban in Jakarta. [Kompas, (Jumat 9/1)].

This matter indirectly gives the big effect to life all mortal that goes on, include in Kalimantan as recognized island which have the tropical rain forest with high closeness, and indirectly give an effect to global climate too.

How can you tackle climate change through youth-led solutions?

Paper has become part of requirement to mankind. Paper has used in most of all life motion, from authentication valuable contract billion rupiah, till for the sweeping of dirt.

The philosophy about paper foundered genuineness for education interest, history and the keeper of documents have valuable on the old time for can understanding by the next generation. But in the growth, papers have the biggest function. Moreover, now moment consumption the papers more than 60% have function for commercial interest, like the pack cosmetic, food pack, and pack of expensive jewelries. And, a culture of anomaly had to happened, where the technology more advances, customizing the paper now high and not less.

Indonesia society consumption every year experiencing of increase, this matter can be seen in this table:

Data Statistic Production and Consumptions paper in the year 2000 – 2004 (include tons)

Year

Production Capacity

Production

Import

Export

Noted Consumption

2000

9,116,180

6,849,000

212,630

2,837,210

4,224,420

2001

9,904,080

6,951,240

199,840

2,345,135

4,805,945

2002

10,045,580

7,212,970

249,695

2,446,730

5,015,935

2003

10,045,580

7,267,880

206,880

2,160,380

5,314,380

2004

10,045,580

7,679,820

306,970

2,576,640

5,410,150

Source: Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005

Based on the problems my observation, necessary of paper never have loss from the students of Lambung Mangkurat University (UNLAM), the students needed the paper for make reports of their practical work, for make this reports, very often happened the fault, that faults cause more much customer the paper that needed by the students until the customizing of paper more wasteful.

Generally, every the new students UNLAM every month spending two rim the papers or 1000 thread paper that, 500 thread between become the useless trash. In the case of counting with the systematic method, if every month me and the other students using papers with size 70 gram, so every month me and the other students using the paper with value 70.000 gram, or be equal with 70 kg and the half from that is 35 kg become the waste paper not to using

Following the accounting Rainforest Information Centre every student using 1 ton be equivalent with felled 17 tree, so if accounted with the course, me and the other students every month using the paper for make the reports be equivalent with felled 0,9 tree per person and trash 0,35 tree with the useless.

Following the table amount of exact student and also estimate of use the paper every month in Lambung Mangkurat Univ.:

No.

Faculty

Amount of Students generation of 2008

A paper has consumption

Equivalent calculation of cut away tree

1.

Forestry

57

3.990 kg

67,83 tree

2.

Agriculture

150

10.500 kg

178,5 tree

3.

Fishery

54

3.780 kg

64,26 tree

4.

Mathematic and Nature Sciences

350

24.500 kg

416,5 tree

5.

Engineering

400

28.000 kg

476 tree

6.

Medicine

150

10.500 kg

178,5 tree

Amount

81.180 kg

1381,59 tree

From the estimate table, we can see about 50% papers / 40,950 papers have been used become a trash that was not useless again, that is balance with logged 690,795 trees through useless. This is a very big wasteful and surely will be give a big influence to forest eternity.

To solve this problem, I have some alternative idea that can use as a attentive step in indirect using papers have a role as a forest conservation action as carbon intimate and as a balance of nature condition, this my advices:

  1. More attentive with which one the file will be print,

Commonly, UNLAM students done to quickly when they want to print the report value, what the have done. This problems make more papers threw useless because more mistake in that’s report. So I think do it more elaborate correction to the file which one they want print so as so the mistake can be minimize.

  1. Using papers more efficiency,

Format that used in the pages setting ought to using standard setting, in order to can economize the columns of paper until customizing paper can be pressured , another methods that using standard alphabet font which can rode, this methods can profitable economize columns of paper until using paper become more minimize.

  1. Using paper which have thickness minimum,

This thing can profitable for economize , many the students using paper with thickness 70 gram and 80 gram, this things in fact can be minimized with using paper with have thickness 50 or 60 gram.

  1. Using again the paper which had used,

This method had practiced by the students of faculty of forestry in Bogor Agricultural University; they made the report profitable second papers, until not happen the big wasting.

  1. Using technology for writing and collecting the result report of students,

This method very efficient for minimize using the paper, for alternative which the report collected ought to in digital form. Where indirect the using papers which not efficient cant pressure economize.

Five methods on top can validation for doing economize of papers, but based on activity which I am analyze, wasteful customizing of paper by the students every month, are the problems which need attention to look for the good solutions, in below some my opinion on the exploit paper, there are:

  1. Socializations about the second rotation of trash to all students, until the second trashes which there for of report fault can to collected again become one

    1. Founding the businessman activities from the youth especially from the students of university to second rotation again that papers, until where indirect from the small community in the university can pressuring the speed of fells the trees indirectly, there are where indirectly too can open the new of field job.

That’s methods must be executing, not just idea on the paper cause some problem not can be done without do something.

Conclusion

Global warming is a complicated issue, so why people seems too furious with that? Actually, they only effort to save by themselves. When the earth supplies many resources, people try to explore it maximally. But when the earth begins to enter in solid term and show up a friendliness attitude, people make a competition to save by themselves. Briefly, how to save the nature condition now which one the earth is not friendly again beside people’s necessary always insistent and never stop to explore the nature? The answer is beginning it from the little things and from you. From this little thing it will make a big change if all of people follow it. So, save our forest for save our climate to get better a life and let’s starting from thrift a paper.

Forest for water, water for life…

(Heart of Borneo)

Reference:

http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/01/myposting_10038.html (Article : Hemat Kertas Selamatkan Dunia!).

http://www.dephut.go.id (Forestry Statistic of Indonesia).

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/09/16512914/ (Article: Dephut Izinkan Gunakan Kayu Hutan Alam).

http://www.panda.org/ intro_factsheet_27nov07_lr.pdf (Article: Deforestation and Climate Change).

http://www.walhikalsel.org/content/view/60/26/ (Article: Jangan Rusak Kehidupan Kami Dengan HTI dan Tumbuhan Monokultur).

http://zainalarifin.wordpress.com/2008/01/19/ (Article: Industri Pulp dan Kertas Ancaman Baru Terhadap Hutan Alam Indonesia).

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali Imran : 191)

wahai orang yang lembut hatinya…..
Disini dan saat ini aku hanya ingin mencoba bernostalgia, menengok kembali kebelakang, pada rangkaian kehidupan yang pernah ku lalui dan ku jalani di masa lalu, tentang betapa memang selalu ada makna, tidak ada yang sia-sia dari setiap rangkaian hidup yang ku lalui. Memang ada duka, kesedihan, rintihan, beban menghimpit dada juga ada senyuman, kebahagiaan dan harapan, tapi semuanya entah kenapa selalu berujung pada akhir yang sama “semua yang pernah kulalui ternyata kini sangat bermanfaat untuk kehidupanku. Untuk dulu aku begini dan tidak begitu”.

sejarah kehdupan cintaku begini adanya, dulu saat pertama kali aku mengalaminya,,tertekan,,jujur saja tertekan,,,,,

singkat saja,,,perjalanan hidupku tiba-tiba sudah seperti sekarang,,,,berbagai orang dan berbagai sifat juga perempuan yang masuk ke hatiku..
mungkin di satu sisi menurut Allah aku tidaklah pantas untuknya, atau di lain sisi dia bukanlah yang pantas untukku,,,
atau ada sisi lain yang memberitahukan aku bahwa kebahagian menyatunya hati ini haruslah ditunda agar aku tidak hanya mereguk cinta yang semu…

sampai saat ini,,,sampai saat yang kesekian kalinya aku merasa demikian…
namun dalam kondsi saat ini aku harusnya merubah fikiranku,,merubah prasangkaku…
mungkin Allah mengatakan ini bukanlah saat yang tepat untuk mereguk kasih…

Ya Rabb, hamba mohon ampun jika selama ini hamba masih lalai untuk hanya mencintai-Mu..

Jika hamba masih terus terbelunggu oleh dunia..

Jika hamba masih menyimpan dunia ini dalam hati hamba dan bukan dalam genggaman tangan hamba..

Jika hamba menjadi insan yang tidak pandai bersyukur pada-Mu..

Berilah air suci mu, jadikan aku kekasih-Mu, biarkan aku hanya cukup mencintai-Mu saja….

Saat ini, tentu ada senyuman, kebahagiaan, keceriaan, dan juga tentu ada kesedihan, rintihan, dan permasalahan yang membebani dada. Seharusnya tidaklah semuanya membuat aku terlena dan terpuruk, karena sesungguhnya saat ini Allah tengah memberikan sebuah pelajaran kehidupan yang teramat berharga bagiku, yang Insya Allah suatu saat kelak akan sangat berharga dan bermanfaat bagi kehidupanku.

Karena Allah tahu mana yang terbaik bagiku dan hanya ingin memberikan yang terbaik bagiku, dan karena Allah tidak akan membawaku pada kemudharatan.